Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

2015/05/08

Budaya 5S di Smaker


SINICTO 2015 - Sudah banyak dan cukup sering kita membahas tentang budaya di sekitaran kabupaten Nganjuk. Ritual, adat-istiadat, tari tradisional, kuliner, tempat bersejarah dan lainnya. Namun, kita bahkan sering tak menyadari budaya yang kita lakukan setiap harinya. Yang jelas-jelas dianjurkan dan dilakukan oleh warga SMAKER. Apakah itu?

5S: salam, sapa, senyum, sopan dan santun adalah tulisan yang biasa kita temukan pada kelas-kelas di SMA kita tercinta. Sebenarnya, apa sih yang membuat tulisan itu ada dihampir seluruh ruang kelas? Salam, sapa, senyum, sopan dan santun merupakan suatu budaya yang telah membudaya di SMA Negeri 1 Kertosono. Kenapa dikatakan budaya? Kita kembalikan saja kepada arti budaya itu sendiri. Budaya adalah suatu kebiasaan, dan 5S merupakan kebiasaan seluruh warga SMA Negeri 1 Kertosono.

5S di SMAKER tidak hanya kepada guru saja, loh ya! 5S juga untuk seluruh orang yang ada di SMAKER. Kebanyakan dari kita (warga SMAKER sendiri) pasti setengah tidak sadar telah melakukan budaya ini. Senyum, sudah menjadi suatu hal yang wajar untuk kita sebagai makhluk sosial. Apa lagi orang Jawa yang terkenal ramah. Salam, sudah seperti paketnya, jika seseorang tersenyum ia (kebanayakan orang) akan memberi salam. Sapa, jika mereka tersenyum dan memberi salam, itu artinya mereka sudah memberi sapaan. Namun terkadang, ada pula yang menyapa lebih ketara dengan menyebutkan nama orang yang disapa. Sopan dan santun, kalau dipikir dan dirasakan, 2 kata ini sering digunakan bersama menjadi suatu kesatuan yang menunjukkan sikap. Sikap di sini berarti etika. Sopan dan santun memiliki pemahaman etika yang baik. Bagaimana maksudnya? Contohnya saja sopan dan santun ketika menyapa Bapak Ibu Guru. Kita bisa saja menggunakan suara nyaring dan gerakan tangan spontan saat menyapa teman sebaya. Namun, hal itu jelas tidak mungkin kita lakukan saat menyapa Bapak Ibu Guru. Pasti akan menghasilkan kesan tidak sopan dan tidak santun.

5S bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Ketika bertemu Bapak Ibu Guru, kakak kelas, teman sebaya, adik kelas, penjaga sekolah, penjaga kantin, satpam dan bahkan tamu yang berkunjung ke sekolah kita. Tapi, jangan berhenti sampai di situ saja. Kita juga bisa membudayakannya di luar lingkungan sekolah. Untuk apa? Agar orang di luar sekolah pun tahu, bahwa warga SMAKER memiliki budaya yang begus. Kenali, resapi, cintai dan hargai budayamu. Budayakan budayamu agar tetap membudaya.

Kesenian Tari di Kota Nganjuk

sumber gambar : telanganjuk.blogspot.com

SINICTO 2015 - Sebagai warga Nganjuk, tentu kita mengetahui bahwa kabupaten kita ini memiliki beberapa seni tari tradisional. Yang paling terkenal adalah tari MungDhe. Namun sebenarnya masih banyak seni tari tradisional lain yang ada di kabupaten Nganjuk. Apa saja, ya?

Jika kita membicarakan tentang tari, pasti tari MungDhe tak luput dari perhatian kita. Tari MungDhe adalah tari tradisional yang berasal dari desa Garu, Baron, Nganjuk. Tari ini bertemakan semangat patriotism (heroik). Tari MungDhe ditarikan oleh penari pria dan wanita. Tari MungDhe menceritakan prajurit perang yang sedang berlatih dan botoh (pemberi semangat). Botoh dibagi menjadi dua, yaitu Tembem dan Penthul. Botoh dalam tari MungDhe adalah pemberi kesan lucu.

Yang kedua adalah tari Tayub. Pusat tari Tayub Nganjuk adalah di desa Ngrajek kecamatan Tanjunganom. Tari Tayub akan sering disajikan jika ada acara (hajat) desa. Bertepatan dengan bulan Suro, desa Ngrajek akan ramai oleh pendatang yang ingin menyaksikan wisuda para Waranggono. “Wisuda para Waranggono diawali dengan ritual-ritual. Antara lain adalah dimandikannya calon waranggono di sebuah sumur tua oleh sesepuh yang telah terbiasa melakukannya.” Terang Bu Wiwik guru mata pelejaran Bahasa Indonesia di SMAKER. Dalam kehidupannya, para penari Tayub sering disebut dengan Ledhek atau Tandak. Jadi, jika seorang gadis ingin menjadi Waranggono, maka ia harus menjalankan ritual-ritual dan barulah ia akan mendapat surat izin untuk menjadi seorang Waranggono.

Tari salipuk adalah tari berpasangan (pria dan wanita) yang merupakan perkembangan dari tari Tayub. Tari Salipuk sangat lazim ditemukan ketika acara besar Kabupaten Nganjuk. Mengapa dinamakan tari Salipuk? Dahulu pada zaman Belanda ada seorang pengamen yang bernama Salipuk. Ia berkeliling menghibur orang-orang dengan membawa gendang. Banyak yang menyukai hiburannya dan akhirnya ia mengmbangkannya menjadi tari berpasangan.

Sebenarnya masih banyak lagi seni tari yang ada di kabupaten Nganjuk. Misal saja Jaranan dan ada pula tarian yang ditarikan ketika masyarakat meminta hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai warga asli kabupaten Nganjuk, sudah seharusnya kita melestarikam kesenian dari wilayah kita sendiri. Jika memang kita tak bisa menarikannya, maka kita pasti bisa menikmatinya. Jika tidak bisa juga, maka kita masih bisa mempelajarinya.

2015/05/06

Gaya Bicara Nguanjuk


SINICTO 2015 - Bahasa merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi. Tiap daerah akan memiliki Bahasa daerah, dialeg, dan logat yang berbeda. Lalu, bagaimana dengan Nganjuk?

Kabupaten Nganjuk terletak di provinsi Jawa Timur. Sudah pasti orang Nganjuk akan berbicara dalam Bahasa Jawa. Bahasa Jawa sendiri, memiliki banyak tingkatan. Ada ngoko, ngoko alus, krama, krama alus, dan krama inggil. Di kabupaten Nganjuk, mayoritas masyarakatnya berbicara dengan ngoko alus dan krama.

Ada pula istilah-istilah atau kata dalam Bahasa Jawa yang pengucapannya berbeda di tiap daerahnya. Semisal istilah menyetujui yang biasa dilafalkan dengan kata “he’eh” di kabupaten Nganjuk, akan berubah bunyinya menjadi “ho’oh” jika yang mengucapkan orang Kediri. Contoh lain adalah ketika menyebutkan esok hari. Mayoritas orang Nganjuk akan menggunakan kata “sesok” sedangkan orang-orang daerah lain semisal Surabaya akan menggunakan kata “mene”.

Hal yang paling menunjukkan ciri khas orang Nganjuk adalah ketika ingin menekankan sesuatau, maka akan ada tambahan huruf “u” atau “o” di sela kata-katanya. Semisal ketika mengagumi sesuatu, jika di wilayah lain akan mengatakan “apik banget lho!” atau “apik tenan!” maka (sebagian) orang Nganjuk akan mengatakan “uapik!”. Contoh lain adalah ketika bosan menunggu. Maka yang biasa keluar dari mulut adalah “suwi tenan ya!” atau “suwi ya!”. Tapi, jika yang mengatakan orang Nganjuk akan menjadi “Souwi ya!”.

Yah, begitulah yang terjadi. itulah kebhinekaan. Perbedaan yang menyatukan. Meskipun berbeda gaya bicara, dalam prakteknya orang-orang akan tetap berbincang. Gaya bicara bahkan Bahasa pun bukan merupakan problema untuk berkomunikasi, untuk bergaul dalam masyarakat dan berguna bagi masyarakat.

Jamasan Pusaka Desa Ngliman


sumber gambar : www.infobudaya.com
SINICTO 2015 - Di samping mandi di air terjun Sedudo pada tanggal 1 Suro (tanggalan Jawa), ada pula ritual lain yang dilakukan pada bulan Suro. Ritual yang menjadi suatu budaya (kebiasaan) masyarakat desa Ngliman kecamatan Sawahan ini harus dilakukan pada hari Jumat Legi, Jumat Wage atau Senin Wage di Gedung Pusaka desa Ngliman.

Sebelumnya, dilakukan dulu Kirab Pusaka yang diawali dari makan Ki Ageng Ngaliman dan berakhir di Gedung Pusaka. Dalam Kirab tersebut terdapat Subha Manggala/Cucuk Lampah (pembuka jalan), prajurit pembawa pusaka, putri domas, dan pasukan MungDhe (MungDhe adalah tarian khas kabupaten Nganjuk).

Dalam Jamasan Pusaka. Ada benda pusaka yang hanya dikeluarkan pada saat upacara adat ini. Benda pusaka yang hanya dikeluarkan pada saat upacara adat ini. Benda pusaka tersebut adalah sebuah kendi. Dalam keseharian, kendi tersebut disimpan di Gedung Makam Kyai Ngaliman. Kemudian, terdapat beberapa pusaka lain, yaitu Kyai Sambat, Kyai Endel, dan Kyai Kembar. Kyai Kembar memiliki bentuk dan panjang yang sama. Dalam ritual Jamasan, terdapat pula bunga setaman dan minyak wangi sebagai barang wajib saat ritual. Kemudian tak lupa tempat merendam pusaka, paying agung, dan padupan. Ada pula Wayang Kayu dan Wayang Krucil. Ritual Jamasan diawali dengan penyerahan pusaka dari berbagai daerah kepada sesepuh desa Ngliman dan diakhiri selametan di Gedung Pusaka. Malam harinya, akan dilanjutkan dengan tasyakuran dan pagelaran wayang semalam suntuk.